Dua Bulan Hidup di Sebuah Pelosok Benua Biru

February 25, 2018 § Leave a comment

Penyakit lama, mau nulis tapi ketunda terus, PAS TIGA TAHUN! Tapi tak apa lah, kan kata pepatah “Lebih baik tidak telat dari pada telat” (Lah, ini kan telat). Jadi kali ini aing mau cerita pengalaman aing Februari-April 2015 lalu. Tepat 3 Februari 2015 lalu aing bertolak menuju Sant Feliu de Guixol (SFG), sebuah kota kecil di Costa Brava, Spanyol. Berada di sisi tenggara Spanyol dan kira-kira dapat ditempuh 1.5 jam dari Barcelona. Tujuan kepergian aing adalah mengikuti job training dari perusahaan tempat bekerja saat itu, Elephant Talk Communication namanya, manis senyumnya, sopan tutur katanya, cerdas pemikirannya (oh maaf, itu Ovi namanya). Dua bulan di sana sampai akhirnya pulang menuju Indonesia pada tanggal 5 April 2015.

Ada banyak hal menarik yang aing dapatkan selama hidup di Spanyol kemarin. Pastinya, karena semua yang dilakuin untuk pertama kalinya pasti selalu menarik. Di tulisan ini bakal aing ceritain beberapa diantaranya. Mulai dari (akhirnya) (secara tidak sengaja) merasakan babi hingga merasakan bagaimana pundak bertemu pundak dan ujung kaki bertemu ujung kaki saat solat yang benar-benar dilakukan karena keterbatasan luas masjid dibandingkan jumlah jamaah 🙂 Yok, dimulai!

  1. Perjalanan udara terlama, total 19 jam lebih!
    Sekitar pukul 19.25 take off dari Soekarno-Hatta, kurang lebih dua jam tiba di Kuala Lumpur (KL) untuk transit sekitar satu jam lebih. Ada perasaan heran dan kaget saat perjalanan dari Soetta menuju KL. Boeing 777-300ER (klo ga salah ingat)  yang guede itu penuh sesak, penuh oleh warga Malaysia, terlihat dari logat dan cara berpakaian mereka. Heran dan kaget, emang banyak duit ya ternyata sahabat jiran kita ini, ke Eropa saja sudah seperti pulang kampung. Sampai akhirnya terjawab saat tiba di KL, kabin seketika sepi, ternyata beneran sampai KL aja :p
    Perjalanan berlanjut, menuju Schiphol, Amsterdam. Perjalanan ditempuh selama sekitar 14-15 jam.
    Apa yang seru? Nemu LCD, berikut remote, dan headphone yang bisa dipake buat nonton film, main game, denger musik. Maafkan awak, waktu itu awak belum pernah nyicip naik maskapai cem Garuda Indonesia yang sebenarnya juga punya fasilitas cem begitu. Tapi ga apa lah, jadi bangga karena nyoba begituan untuk pertama kali didapat pas di perjalanan ke Eropa untuk pertama kalinya. Selain itu juga dikasih makanan & minuman ringan-berat (contoh minuman berat adalah wine, tapi tenang saja saya tidak ikut mencoba kok, takut mabok, kan ga lucu tiba-tiba saya muncul di headline Cianjur Post, “Bocah mabok, kapal KLM teu jadi ka Amsterdam, ujuk-ujuk mendarat darurat di Cianjur Kulon”).  Trus selama perjalanan juga bisa tiduran di tiga bangku, saking sepi nya.
    Oke, noraknya cukup. Sampai akhirnya tiba di Schiphol, beberapa jam sebelum waktu Shubuh di sana. Buang air, istirahat sejenak, mencari pray room, wudhu pake air kulkas, dan siap-siap perjalanan selanjutnya, dari Schiphol menuju Barcelona, ditempuh selama kurang lebih dua jam 10 menit.
IMG_1827

Schiphol, sebelum Barcelona

    1. Winter
      Baru saja tiba di Barcelona, pak sopir utusan perusahaan menuntun ke parkir bus dan jepret! Dingin cuk, dingin! Tiba di SFG, menuju apartemen, dan langsung disuguhi salju lembut. Walaupun bukan salju yang sering dilihat di pilem-pilem tapi bersyukur akhirnya merasakan salju. Konon katanya itu adalah salju pertama yang dialami kota kecil itu selama kurang lebih  lima tahun terakhir.
      Cuaca pada lima minggu pertama di sana cukup ekstrim bagi seorang Indonesia yang baru pertama kali menghadapi winter. Suhu berkisar 3-10 derajat Celcius pada lima minggu pertama ditambah dengan angin yang lumayan kencang. Kering coi, kering! Mulai dari kulit, bibir, sampai hati ini. Hati kering karena dipisahkan jarak dan waktu dengan Ovi, hiks. Sekitar tiga minggu terakhir disuguhi cuaca dengan kriteria suhu mulai hangat di 10-15 derajat tapi ditambah angin yang super kencang.

      IMG_2904

      Aseeek, udah cem model aja, model Majalah Trubus

      Jadi kesimpulannya apa? Seru! Karena bisa selalu berpakaian layaknya orang-orang eropa di pilem-pilem, rapi dan berlapis-lapis, biar anget.

    2. Menjadi Minoritas
      Kaget! Ternyata di SFG ada masjid! Ternyata keberadaan masjid ini di latarbelakangi oleh banyaknya warga keturunan dari Maroko (dan sekitarnya) di sini, Alhamdulillah. Di Elephant Talk SFG hanya terdapat tiga orang muslim, salah seorangnya yang merupakan warga negara Mesir yang (maaf) namanya aing lupa. Setelah makan siang di hari pertama training waktu itu, kami diantarkan ke masjid tersebut. Hampir semua jamaah memperhatikan kami, sampai akhirnya beberapa di antara kami menyapa mereka semua dan menjelaskan jika kami dari Indonesia. Dan mereka semua tersenyum. Salah seorang bapak tua berceletuk, “Indonesia is a nice country for Moslem”. Terharu mendengarnya, seakan mereka juga menginginkan keleluasaan dan kenyamanan sebagai seorang muslim.
      Klo solat di Indonesia aing sering menemukan jamaah yang menurut aing ‘memaksa’ merapatkan shaf. Ujung kaki ditempel dengan ujung kaki jamaah di sebelah tapi ga diikuti dengan mendekatkan pundak dengan pundak. Bagaimana dengan di sini? Ujung kaki bertemu ujung kaki, pundak bertemu pundak, plus ‘area’ solat dipotong 3/4 panjang sajadah seharusnya. Bayangkan bule-bule yang rata-rata tingginya sekitar 190 cm itu harus sujud dengan area yang tidak sesuai dengan tinggi mereka, demi semua jamaah kebagian tempat!

      IMG_20150213_184535

      Sedikit penampakan di Masjid di SFG

    3. Nikmatnya makanan Indonesia di Eropa
      Hampir sekitar dua minggu sekali kami selalu ke Barcelona dan minggu kelima beda rasanya. Lidah ini memanggil kami Betawi Restaurant, satu-satunya restoran Indonesia yang ada di Barcelona, mungkin di Spanyol (eh gatau deng). Pemiliknya adalah seorang wanita Indonesia yang bersuamikan orang asli Spanyol. Semua pelayannya juga sepertinya datang dari Asia. Jumat sore sepulang training beberapa dari kami menuju Barcelona, ditempuh sekitar 1.5 jam. Tiba di Barcelona Nord Bus Station dan kami langsung menuju Betawi. Saya memesan soto ayam, nasi putih, batagor, dan es teh manis. Total 24.8€, jika kurs 1 Euro seharga dengan Rp15.000 maka total makan malam saya waktu itu ‘cuma’ sekitar Rp372.000. Sepadan lah untuk mengobati rasa rindu masakan Indonesia waktu itu. Sungguh berasa di Indonesia, mulai dari rasa hingga suasana restorannya. Interiornya bergayakan Indonesia dan musiknya yang disuguhkan juga musik Indonesia. Waktu itu lagu Peterpan, Raisa, dan Maliq & d’essentials dinyayikan bergantian. Ah, bahagianya waktu itu!

      IMG_1922

      di Girona, bukan di Betawi Restaurant (terus?) Btw Hai Sekar, Hai Evan!

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Selamat Hari Blogger Nasional

October 27, 2013 § Leave a comment

Singkat saja, selamat menulis, selamat membaca, selamat dunia-akhirat.

Acknowledgement

July 29, 2013 § Leave a comment

Teringat ketakutan selama dua hari sebelum berangkat. Tak lupa ketakutan yang memuncak di tiga hari awal tiba di Bangkok saat perkenalan projek. ‘Never say no to answer’, itu potongan kalimat yang diutarakan CEO Air Asia yang aing baca di perjalanan menuju Bangkok, salah satu semangat yang membawa aing untuk menyelesaikan semua ini. Kini semua berakhir suka cita. ‘Internship Mission Accomplished’ itulah subjek e-mail teruntuk Pak Arief. Silahkan dilihat projek sederhana namun sarat pembelajaran ini di sini.

Terima kasih untuk semua dukungan orang tua, adik-adik, keluarga, dan semua orang di bawah ini:
Pak Arief, beliau sempat-sempatnya mengurus semua keperluan kita di tengah sibuknya EE Day Mei lalu,
Mr.Poj as my advisor, a Carnegie Mellon graduated professor, i am very proud to be guided by you,  (mana tau beliau kepoin blog ini),
Berlian, teman seperjuangan dua bulan ini, sukses NUS nya coi,
Imre, dia yang tidak sengaja membawa aing ke mimpinya internship di luar Indonesia, makasih banyak sap!,
semua teman-teman Indonesia KMUTT, rindu tanah air terobati kala bergurau dengan kalian semua,
Rara & Ayuk, dua mahasiswi internship asal Unibraw yang datang sebulan setelah kita, seru bisa jalan-jalan bareng kalian!,
Vonyah, galau breaker, klo aing galau pasti ke dia,
Gilang, Ricky, Syarif, Ifa, Kak Aulia, Kak Akbar, Pi Aun, Pi Dew, Pi Wi, dan semua teman lab, terima kasih udah ngejawab semua pertanyaan aing,
Cahaya Hati, Whatsapp ga pernah sepi, koplak selalu,
Empat Sekawin UT 2010, partner in nyampah, walau di tengan KP begini,
Ron & Aun, Thai buddies yang setia mengenalkan kita dengan KMUTT,
semua teman-teman yang super menghibur dengan komen-komen kocak ttg Thailand,
dan semua yang ga bisa disebutin satu-per-satu di tulisan ini.

Terima kasih sudah ikut berlakon di salah satu bagian terseru hidup aing selama ini  🙂

Merindu

July 16, 2013 § Leave a comment

Menulis, kadang cuma hal itu yang bisa dilakukan oleh seseorang yang merindu, seraya menunggu temu.

Rindu bertemu kalian semua,
rindu candaan keluarga,
rindu candaan plus bacotan sahabat,teman,semua orang di sana,
rindu semua masakan Ibu,
rindu hedonisme khas Bandung,
rindu kampus terindah-terdamai-teramai-tergaul-dan-semua-‘ter’-yang-ada,
rindu damainya ngansos di kosan,
rindu akan wanita-wanita terindah di dunia, wanita Indonesia,
rindu warung padang sekitar kampus dan kosan -Doa Mande, Datuak, Putra Minang, Minang Maimbau,
rindu lapangan-tenis-A-B-C-D-Saraga,
rindu kasur kosan,
rindu wacana sapi-sapi,
rindu teriakan ibu kos,
rindu kajian-kajian-sok-serius,
dan rindu semua yang memang harus dirindukan.

Kamu tahu apa yang menarik dari rindu?
Ialah fakta bahwa ia terletak pada lobus yang berdampingan dengan cinta.
Jadi kalau aku merindu temu, aku sedang mencintamu saat itu.

 

-Yang cem puisi di bagian terakhir itu reblogged from indraps on tumblr

First Look at Bangkok

June 12, 2013 § Leave a comment

Sudah sepuluh hari di negeri orang, aing mau sedikit cerita. Bagian awal cerita kali ini emang sangat sendu, seakan membuat para pembaca ingin mengelus pukpuk kasian buat diriku ini, markemon, mari kita kemon!

Sabtu pagi, 1 Juni 2013, Induak jo Abak lah tibo di kosan, aing masih tertidur pulas di kamar. Ceritanya hari itu mereka jemput aing berikut semua barang-barang ke Cianjur. Yak, ini adalah tahap persiapan menuju kerja praktek (KP) di KMUTT Bangkok. Baah, akhirnya cita-cita aing mencari banci-banci Thailand tercapai (Eh maksudnya jalan-jalan ke Thailand, sumpah serius yang banci becanda doank). Minggu siang aing pamit sama Ibu dan Ilham, mau nangis di pelukan Ibu eh Ibu nya biasa aja, yaudah ga jadi nangisnya. Lanjut, jadi siang ini aing sama si Babeh menuju Soekarno-Hatta dan tiba di tekape sekitar pukul 20.00. Menunggu jemputan dan nginep di salah satu hotel di daerah Cengkareng, ceritanya ga mau telat buat penerbangan cukup pagi besok harinya. Bangun jam 04.00 Senin pagi, mandi syalala dan tibalah di Terminal 3, terlihat Berlian sudah menunggu semalam, yak doi nunggu semalem di sini, gelo emang. Berlian Teknik Elektro 2010, doi partner KP aing selama dua bulan ke depan (dan partner jalan-jalan pastinya). Pamit sama Babeh dan aing take off sekitar 07.20, see you later Indonesia 🙂

Tau hal paling luar biasa di penerbangan ini, pilotnya klo kasih report pasti diawali dengan Assalammualaikum, ini kali pertama aing nemuin pilot cem ini, Subhanallah. Tiga jam 20 menit penerbangan dan akhirnya landing di Don Mueang Bangkok, airport kelas ekonomi, beda jauh Suvarnabhumi Airport yang katanya apik tenan. Tapi tak apalah, bagaimanapun juga sudah landing di Bangkok. Dijemput oleh dua mahasiswa S3 nya Mr.Poj, Song dan Tik. Anjer, si Song cantik coi, manusia tipikal Thailand pisun, rambut panjang, putih gitu. Yak kita menuju KMUTT dan diperkenalkan dengan Mr.Poj sebagai advisor dan Aun sebagai buddy kami selama di sini. Baru sekian jam dan perasaan udah ga enak, mulai dari belum bisa komunikasi dengan keluarga dan teman di Indo sampai ketakutan pada projek yang bakal dikasih nanti, ah cups. Satu lagi, masalah awal ga sampe di sini aja, sampe pada masalah makanan yang harus dipaksa masuk ke perut dengan sekian banyak tegukan air putih. Ngelu pisan reeeek!

Ngajikhun Indonesia featuring Thailand, geulis kan?

Ngajikhun Indonesia featuring Thailand, geulis kan?

Namun hari-hari semakin menyenangkan, dimulai dari sim card hape sudah dapat digunakan, projek yang sudah jelas akan bagaimana diselesaikan ke depannya, dan terbiasa dengan makanan lokal. Puncaknya adalah Jumat bertemu dengan sesama teman-teman S2 dan S3 dari Indonesia di Masjid Darussalam di dekat kampus. Bercanda gurau, bebas pake Bahasa Indonesia! Beres Jumatan pun kita disedian makan siang gratis oleh Masjid, plus es cendol yang super wenak. Hari-hari semakin berwarna karena malamnya kami ke Asiatique bersama Pat, Za, dan James. Pat adalah perempuan muslim asli Thailand nan geulis yang awalnya kita ajak berkenalan di kantin kampus, geulis coi, geulis! Achievement unlocked! Minggu hari ga kalah seru, Ngajikhun dengan mahasiswa muslim Indonesia dan Thailand di Mahidol University. Dan sekali lagi aing nemuin perempuan muslim Thailand nan geulis di sini, catet ini kali kedua. Sampai akhirnya hari ini, menyempatkan menulis, membagi cerita untuk para pembaca. Masih sekitar tujuh minggu ke depan di sini, nantikan cerita neng-neng geulis Thailand selanjutnya, HAHAHAHA.

Pat geulis pisun (dan aing di sampingnya)

Pat geulis pisun (dan aing di sampingnya)

Ngajikhun, aing nyempil

Ngajikhun, aing nyempil

Gaya sikit

Gaya sikit

Yak, kesulitan terbesar itu memang ada di awal jalan. Kesulitan akan surut seraya berusaha dan kalaupun mengeluh itu pun tak apa, asal pada tempat yang tepat.

AMI2013

April 16, 2013 § Leave a comment

AMI alias Aku Masuk ITB, sebuah maha persembahan dari Keluarga Mahasiswa ITB untuk calon mahasiswa Indonesia.
Penyambutan di garda terdepan untuk calon-calon pemimpin bangsa kelak.  Pelepas dahaga  keingintahuan mereka akan kampus ini. Ajang bermimpi bersama. Berlomba menjadi salah satu dari 3000-an calon mahasiswa terbaik.

601218_2852943738345_159285008_n2

417731_2852944498364_387719020_n541455_2852945578391_1732537370_n*Foto oleh Amalia Dwiandani

Manipulate

April 9, 2013 § 2 Comments

Akhirnya aing nulis lagi, di tengah kuliah yg lagi mencapai klimaks, di tengah tulisan ‘Mendadak Jogja’ yang ga beres-beres sampai TIGA BULAN ini, dan di tengah pencarian seorang wanita pendamping hidup yang tak kunjung datang.

Tau kan klo kalian jalan-jalan ke tempat baru kita bakal nemuin banyak hal baru? Kemarin malam aing seakan-akan jalan-jalan, padahal ga kemana-mana, yo mondok neng Bandung ae. Ini dia..

Minggu malam, anak-anak UT makan di The Kiosk Dago, di sana aing belajar, belajar makan ronde yang baik dan benar, sesuai EYD! Awal ceritanya si Vonya, pakar ronde dari UT, ngasih tau klo di sana ada ronde yang terkenal se-Bangdung raya gitu, ronde Alkateri. FYI tempat ronde Alkateri yang asli ada di Jalan Alkateri, Bandung. Klo dari Asia-Afrika itu belok kanan, deket kantor pos. Nah lanjut, trus aing pesan itu ronde dan Vonya si pakar ronde ngajarin aing makan ronde yang super shahih, yaitu lo makan ronde yang besarnya terlebih dahulu, trus nikmati isi kacangnya sembari makan ronde yang kecilnya. NIKMAT! Dominasi kacang yang pecah dari si ronde besar tiba-tiba ternetralisir dengan adanya si ronde kecil, gue nangis saking enaknya. Ini pas banget kayak lo jalan-jalan ntah ke negeri mana, dijamu warga setempat, dikenalin dan diajarin cara makan kuliner di sana, traveling banget!

Yaudah sih gitu aja, kali ini pendek aja :p Jadi intinya aing mau kasih tau, sebagaimana kita ketahui bersama, salah satu rukun saat melakukan ibadah traveling itu adalah makan makanan yang belum pernah lo makan. Nah jadi lo bisa seakan-akan ‘traveling’ tapi sebenarnya lo lagi ga traveling, kayak yang aing lakuin tadi, got my point?

Where Am I?

You are currently browsing the Bacot category at FRESH THOUGHT, FRESH JOKE.

%d bloggers like this: