Dua Bulan Hidup di Sebuah Pelosok Benua Biru

February 25, 2018 § Leave a comment

Penyakit lama, mau nulis tapi ketunda terus, PAS TIGA TAHUN! Tapi tak apa lah, kan kata pepatah “Lebih baik tidak telat dari pada telat” (Lah, ini kan telat). Jadi kali ini aing mau cerita pengalaman aing Februari-April 2015 lalu. Tepat 3 Februari 2015 lalu aing bertolak menuju Sant Feliu de Guixol (SFG), sebuah kota kecil di Costa Brava, Spanyol. Berada di sisi tenggara Spanyol dan kira-kira dapat ditempuh 1.5 jam dari Barcelona. Tujuan kepergian aing adalah mengikuti job training dari perusahaan tempat bekerja saat itu, Elephant Talk Communication namanya, manis senyumnya, sopan tutur katanya, cerdas pemikirannya (oh maaf, itu Ovi namanya). Dua bulan di sana sampai akhirnya pulang menuju Indonesia pada tanggal 5 April 2015.

Ada banyak hal menarik yang aing dapatkan selama hidup di Spanyol kemarin. Pastinya, karena semua yang dilakuin untuk pertama kalinya pasti selalu menarik. Di tulisan ini bakal aing ceritain beberapa diantaranya. Mulai dari (akhirnya) (secara tidak sengaja) merasakan babi hingga merasakan bagaimana pundak bertemu pundak dan ujung kaki bertemu ujung kaki saat solat yang benar-benar dilakukan karena keterbatasan luas masjid dibandingkan jumlah jamaah 🙂 Yok, dimulai!

  1. Perjalanan udara terlama, total 19 jam lebih!
    Sekitar pukul 19.25 take off dari Soekarno-Hatta, kurang lebih dua jam tiba di Kuala Lumpur (KL) untuk transit sekitar satu jam lebih. Ada perasaan heran dan kaget saat perjalanan dari Soetta menuju KL. Boeing 777-300ER (klo ga salah ingat)  yang guede itu penuh sesak, penuh oleh warga Malaysia, terlihat dari logat dan cara berpakaian mereka. Heran dan kaget, emang banyak duit ya ternyata sahabat jiran kita ini, ke Eropa saja sudah seperti pulang kampung. Sampai akhirnya terjawab saat tiba di KL, kabin seketika sepi, ternyata beneran sampai KL aja :p
    Perjalanan berlanjut, menuju Schiphol, Amsterdam. Perjalanan ditempuh selama sekitar 14-15 jam.
    Apa yang seru? Nemu LCD, berikut remote, dan headphone yang bisa dipake buat nonton film, main game, denger musik. Maafkan awak, waktu itu awak belum pernah nyicip naik maskapai cem Garuda Indonesia yang sebenarnya juga punya fasilitas cem begitu. Tapi ga apa lah, jadi bangga karena nyoba begituan untuk pertama kali didapat pas di perjalanan ke Eropa untuk pertama kalinya. Selain itu juga dikasih makanan & minuman ringan-berat (contoh minuman berat adalah wine, tapi tenang saja saya tidak ikut mencoba kok, takut mabok, kan ga lucu tiba-tiba saya muncul di headline Cianjur Post, “Bocah mabok, kapal KLM teu jadi ka Amsterdam, ujuk-ujuk mendarat darurat di Cianjur Kulon”).  Trus selama perjalanan juga bisa tiduran di tiga bangku, saking sepi nya.
    Oke, noraknya cukup. Sampai akhirnya tiba di Schiphol, beberapa jam sebelum waktu Shubuh di sana. Buang air, istirahat sejenak, mencari pray room, wudhu pake air kulkas, dan siap-siap perjalanan selanjutnya, dari Schiphol menuju Barcelona, ditempuh selama kurang lebih dua jam 10 menit.
IMG_1827

Schiphol, sebelum Barcelona

    1. Winter
      Baru saja tiba di Barcelona, pak sopir utusan perusahaan menuntun ke parkir bus dan jepret! Dingin cuk, dingin! Tiba di SFG, menuju apartemen, dan langsung disuguhi salju lembut. Walaupun bukan salju yang sering dilihat di pilem-pilem tapi bersyukur akhirnya merasakan salju. Konon katanya itu adalah salju pertama yang dialami kota kecil itu selama kurang lebih  lima tahun terakhir.
      Cuaca pada lima minggu pertama di sana cukup ekstrim bagi seorang Indonesia yang baru pertama kali menghadapi winter. Suhu berkisar 3-10 derajat Celcius pada lima minggu pertama ditambah dengan angin yang lumayan kencang. Kering coi, kering! Mulai dari kulit, bibir, sampai hati ini. Hati kering karena dipisahkan jarak dan waktu dengan Ovi, hiks. Sekitar tiga minggu terakhir disuguhi cuaca dengan kriteria suhu mulai hangat di 10-15 derajat tapi ditambah angin yang super kencang.

      IMG_2904

      Aseeek, udah cem model aja, model Majalah Trubus

      Jadi kesimpulannya apa? Seru! Karena bisa selalu berpakaian layaknya orang-orang eropa di pilem-pilem, rapi dan berlapis-lapis, biar anget.

    2. Menjadi Minoritas
      Kaget! Ternyata di SFG ada masjid! Ternyata keberadaan masjid ini di latarbelakangi oleh banyaknya warga keturunan dari Maroko (dan sekitarnya) di sini, Alhamdulillah. Di Elephant Talk SFG hanya terdapat tiga orang muslim, salah seorangnya yang merupakan warga negara Mesir yang (maaf) namanya aing lupa. Setelah makan siang di hari pertama training waktu itu, kami diantarkan ke masjid tersebut. Hampir semua jamaah memperhatikan kami, sampai akhirnya beberapa di antara kami menyapa mereka semua dan menjelaskan jika kami dari Indonesia. Dan mereka semua tersenyum. Salah seorang bapak tua berceletuk, “Indonesia is a nice country for Moslem”. Terharu mendengarnya, seakan mereka juga menginginkan keleluasaan dan kenyamanan sebagai seorang muslim.
      Klo solat di Indonesia aing sering menemukan jamaah yang menurut aing ‘memaksa’ merapatkan shaf. Ujung kaki ditempel dengan ujung kaki jamaah di sebelah tapi ga diikuti dengan mendekatkan pundak dengan pundak. Bagaimana dengan di sini? Ujung kaki bertemu ujung kaki, pundak bertemu pundak, plus ‘area’ solat dipotong 3/4 panjang sajadah seharusnya. Bayangkan bule-bule yang rata-rata tingginya sekitar 190 cm itu harus sujud dengan area yang tidak sesuai dengan tinggi mereka, demi semua jamaah kebagian tempat!

      IMG_20150213_184535

      Sedikit penampakan di Masjid di SFG

    3. Nikmatnya makanan Indonesia di Eropa
      Hampir sekitar dua minggu sekali kami selalu ke Barcelona dan minggu kelima beda rasanya. Lidah ini memanggil kami Betawi Restaurant, satu-satunya restoran Indonesia yang ada di Barcelona, mungkin di Spanyol (eh gatau deng). Pemiliknya adalah seorang wanita Indonesia yang bersuamikan orang asli Spanyol. Semua pelayannya juga sepertinya datang dari Asia. Jumat sore sepulang training beberapa dari kami menuju Barcelona, ditempuh sekitar 1.5 jam. Tiba di Barcelona Nord Bus Station dan kami langsung menuju Betawi. Saya memesan soto ayam, nasi putih, batagor, dan es teh manis. Total 24.8€, jika kurs 1 Euro seharga dengan Rp15.000 maka total makan malam saya waktu itu ‘cuma’ sekitar Rp372.000. Sepadan lah untuk mengobati rasa rindu masakan Indonesia waktu itu. Sungguh berasa di Indonesia, mulai dari rasa hingga suasana restorannya. Interiornya bergayakan Indonesia dan musiknya yang disuguhkan juga musik Indonesia. Waktu itu lagu Peterpan, Raisa, dan Maliq & d’essentials dinyayikan bergantian. Ah, bahagianya waktu itu!

      IMG_1922

      di Girona, bukan di Betawi Restaurant (terus?) Btw Hai Sekar, Hai Evan!

« Read the rest of this entry »

Advertisements

Melipir ke Bangkok dan Sekitarnya

August 22, 2014 § Leave a comment

Kejadiannya lebih dari satu tahun yang lalu, tapi baru ditulis sekarang, dosa besar! Ampuni aku ya teman-teman pembaca (emang ada yang baca?). Jadi ceritanya Juni sampai Juli 2013 lalu aing Kerja Praktek (KP) bareng Berlian di salah satu kampus di Bangkok, namanya King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT). Kenapa KP di kampus? Ya bae atuh, aing nge-gawe kerjaan dari salah satu dosen, gawe di salah satu lab gitu. Lika-liku kehidupan di awal KP udah aing ceritain di bawah, scroll aja. Sekarang aing bakal bagi-bagi cerita jalan-jalannya aja.
Thailand terlalu luas klo mau didatangi satu per satu wilayahnya. Phuket ada di sebelah selatan, Bangkok di tengah, dan Chiang Mai yang dingin ada di utara. Nah berhubung aing Senin sampai Jumat harus ke lab maka aing jalan-jalan cuma di Bangkok dan kota-kota di sekitarnya. Tetep seru kok, belanja, jalan-jalan, dan kuliner. Aing bakal ceritain beberapa tempat yang aing datengin selama dua bulan KP di Bangkok, hampir semua aing datengin, jadi lumayan bisa jadi referensi teman-teman yang berencana main ke Bangkok dan sekitarnya.

Bangkok surga belanja! Ini aing ketemu cewek-cewek rempong Jakarte dan bule-bule Prancis, berburu jersey KW bareng!

Bangkok surga belanja!
Ini aing ketemu cewek-cewek rempong Jakarte dan bule-bule Prancis, barengan berburu jersey KW

Grand Palace
Belum ke Bangkok namanya klo belum ke Grand Palace. Grand Palace adalah semacam komplek istana yang terdiri dari bangunan istana itu sendiri dan beberapa Wat (candi) di dalamnya. Biaya masuk untuk turis asing adalah 500 baht (sekitar 167 ribu Rupiah) dan GRATIS untuk turis lokal. Klo aing sih masuk gratis (HAHAHA). Waktu itu aing ke sana bareng temen lab, Pi Dew panggilannya, asli Thailand. Kami melewati pintu belakang dan Pi Dew bertanya ke orang sekitar sana, apakah boleh lewat sana atau ga. Hasilnya petugas tidak ada yang acuh dan kami berlenggang masuk dengan santai. Tiba di dalam baru mengeluarkan kacamata dan kamera (HAHAHA). Jangan ditiru jika tidak bernyali! Oiya bagi mahasiswa asing yg kuliah di Thailand juga bisa masuk dengan gratis dengan menunjukkan KTM di loket tiket. Diskon ini juga berlaku di berbagai tempat wisata di Thailand, silahkan dicoba di tempat lain.

Salah satu pojok Grand Palace

Salah satu pojok Grand Palace dengan Berlian, belahan hati selama di Bangkok

Wat Arun
Candi ini terletak di pinggir sungai Chao Phraya. Paling tepat dikunjungi setelah selesai dari Grand Palace karena jaraknya yang lumayan berdekatan. Jalan sekitar 15 menit dari Grand Palace ke pinggir sungai lalu menaiki kapal penyeberangan dengan biaya 5 atau 10 baht. Biaya masuk Wat Arun untuk turis asing adalah 50 baht (sekitar 17 ribu Rupiah) dan sekali lagi GRATIS untuk turis lokal. Apakah aing masuk dengan gratis lagi? IYA DONK. Kali ini dengan lebih horor karena masuk lewat pintu utama, diam hening berlagak cem orang Thai asli. Ngantre 5 menit terlama dalam hidup aing!

Madame Tussauds
Wah ini sih seru bingits! Madame Tussauds itu semacam museum yang isinya adalah patung (lilin klo ga salah) bintang dunia, mulai dari artis, pemimpin dunia, sampai ilmuwan. Di Asia cuma ada tujuh museum, yang paling dekat ada di Singapur dan Bangkok. « Read the rest of this entry »

Selamat Hari Blogger Nasional

October 27, 2013 § Leave a comment

Singkat saja, selamat menulis, selamat membaca, selamat dunia-akhirat.

Acknowledgement

July 29, 2013 § Leave a comment

Teringat ketakutan selama dua hari sebelum berangkat. Tak lupa ketakutan yang memuncak di tiga hari awal tiba di Bangkok saat perkenalan projek. ‘Never say no to answer’, itu potongan kalimat yang diutarakan CEO Air Asia yang aing baca di perjalanan menuju Bangkok, salah satu semangat yang membawa aing untuk menyelesaikan semua ini. Kini semua berakhir suka cita. ‘Internship Mission Accomplished’ itulah subjek e-mail teruntuk Pak Arief. Silahkan dilihat projek sederhana namun sarat pembelajaran ini di sini.

Terima kasih untuk semua dukungan orang tua, adik-adik, keluarga, dan semua orang di bawah ini:
Pak Arief, beliau sempat-sempatnya mengurus semua keperluan kita di tengah sibuknya EE Day Mei lalu,
Mr.Poj as my advisor, a Carnegie Mellon graduated professor, i am very proud to be guided by you,  (mana tau beliau kepoin blog ini),
Berlian, teman seperjuangan dua bulan ini, sukses NUS nya coi,
Imre, dia yang tidak sengaja membawa aing ke mimpinya internship di luar Indonesia, makasih banyak sap!,
semua teman-teman Indonesia KMUTT, rindu tanah air terobati kala bergurau dengan kalian semua,
Rara & Ayuk, dua mahasiswi internship asal Unibraw yang datang sebulan setelah kita, seru bisa jalan-jalan bareng kalian!,
Vonyah, galau breaker, klo aing galau pasti ke dia,
Gilang, Ricky, Syarif, Ifa, Kak Aulia, Kak Akbar, Pi Aun, Pi Dew, Pi Wi, dan semua teman lab, terima kasih udah ngejawab semua pertanyaan aing,
Cahaya Hati, Whatsapp ga pernah sepi, koplak selalu,
Empat Sekawin UT 2010, partner in nyampah, walau di tengan KP begini,
Ron & Aun, Thai buddies yang setia mengenalkan kita dengan KMUTT,
semua teman-teman yang super menghibur dengan komen-komen kocak ttg Thailand,
dan semua yang ga bisa disebutin satu-per-satu di tulisan ini.

Terima kasih sudah ikut berlakon di salah satu bagian terseru hidup aing selama ini  🙂

Merindu

July 16, 2013 § Leave a comment

Menulis, kadang cuma hal itu yang bisa dilakukan oleh seseorang yang merindu, seraya menunggu temu.

Rindu bertemu kalian semua,
rindu candaan keluarga,
rindu candaan plus bacotan sahabat,teman,semua orang di sana,
rindu semua masakan Ibu,
rindu hedonisme khas Bandung,
rindu kampus terindah-terdamai-teramai-tergaul-dan-semua-‘ter’-yang-ada,
rindu damainya ngansos di kosan,
rindu akan wanita-wanita terindah di dunia, wanita Indonesia,
rindu warung padang sekitar kampus dan kosan -Doa Mande, Datuak, Putra Minang, Minang Maimbau,
rindu lapangan-tenis-A-B-C-D-Saraga,
rindu kasur kosan,
rindu wacana sapi-sapi,
rindu teriakan ibu kos,
rindu kajian-kajian-sok-serius,
dan rindu semua yang memang harus dirindukan.

Kamu tahu apa yang menarik dari rindu?
Ialah fakta bahwa ia terletak pada lobus yang berdampingan dengan cinta.
Jadi kalau aku merindu temu, aku sedang mencintamu saat itu.

 

-Yang cem puisi di bagian terakhir itu reblogged from indraps on tumblr

First Look at Bangkok

June 12, 2013 § Leave a comment

Sudah sepuluh hari di negeri orang, aing mau sedikit cerita. Bagian awal cerita kali ini emang sangat sendu, seakan membuat para pembaca ingin mengelus pukpuk kasian buat diriku ini, markemon, mari kita kemon!

Sabtu pagi, 1 Juni 2013, Induak jo Abak lah tibo di kosan, aing masih tertidur pulas di kamar. Ceritanya hari itu mereka jemput aing berikut semua barang-barang ke Cianjur. Yak, ini adalah tahap persiapan menuju kerja praktek (KP) di KMUTT Bangkok. Baah, akhirnya cita-cita aing mencari banci-banci Thailand tercapai (Eh maksudnya jalan-jalan ke Thailand, sumpah serius yang banci becanda doank). Minggu siang aing pamit sama Ibu dan Ilham, mau nangis di pelukan Ibu eh Ibu nya biasa aja, yaudah ga jadi nangisnya. Lanjut, jadi siang ini aing sama si Babeh menuju Soekarno-Hatta dan tiba di tekape sekitar pukul 20.00. Menunggu jemputan dan nginep di salah satu hotel di daerah Cengkareng, ceritanya ga mau telat buat penerbangan cukup pagi besok harinya. Bangun jam 04.00 Senin pagi, mandi syalala dan tibalah di Terminal 3, terlihat Berlian sudah menunggu semalam, yak doi nunggu semalem di sini, gelo emang. Berlian Teknik Elektro 2010, doi partner KP aing selama dua bulan ke depan (dan partner jalan-jalan pastinya). Pamit sama Babeh dan aing take off sekitar 07.20, see you later Indonesia 🙂

Tau hal paling luar biasa di penerbangan ini, pilotnya klo kasih report pasti diawali dengan Assalammualaikum, ini kali pertama aing nemuin pilot cem ini, Subhanallah. Tiga jam 20 menit penerbangan dan akhirnya landing di Don Mueang Bangkok, airport kelas ekonomi, beda jauh Suvarnabhumi Airport yang katanya apik tenan. Tapi tak apalah, bagaimanapun juga sudah landing di Bangkok. Dijemput oleh dua mahasiswa S3 nya Mr.Poj, Song dan Tik. Anjer, si Song cantik coi, manusia tipikal Thailand pisun, rambut panjang, putih gitu. Yak kita menuju KMUTT dan diperkenalkan dengan Mr.Poj sebagai advisor dan Aun sebagai buddy kami selama di sini. Baru sekian jam dan perasaan udah ga enak, mulai dari belum bisa komunikasi dengan keluarga dan teman di Indo sampai ketakutan pada projek yang bakal dikasih nanti, ah cups. Satu lagi, masalah awal ga sampe di sini aja, sampe pada masalah makanan yang harus dipaksa masuk ke perut dengan sekian banyak tegukan air putih. Ngelu pisan reeeek!

Ngajikhun Indonesia featuring Thailand, geulis kan?

Ngajikhun Indonesia featuring Thailand, geulis kan?

Namun hari-hari semakin menyenangkan, dimulai dari sim card hape sudah dapat digunakan, projek yang sudah jelas akan bagaimana diselesaikan ke depannya, dan terbiasa dengan makanan lokal. Puncaknya adalah Jumat bertemu dengan sesama teman-teman S2 dan S3 dari Indonesia di Masjid Darussalam di dekat kampus. Bercanda gurau, bebas pake Bahasa Indonesia! Beres Jumatan pun kita disedian makan siang gratis oleh Masjid, plus es cendol yang super wenak. Hari-hari semakin berwarna karena malamnya kami ke Asiatique bersama Pat, Za, dan James. Pat adalah perempuan muslim asli Thailand nan geulis yang awalnya kita ajak berkenalan di kantin kampus, geulis coi, geulis! Achievement unlocked! Minggu hari ga kalah seru, Ngajikhun dengan mahasiswa muslim Indonesia dan Thailand di Mahidol University. Dan sekali lagi aing nemuin perempuan muslim Thailand nan geulis di sini, catet ini kali kedua. Sampai akhirnya hari ini, menyempatkan menulis, membagi cerita untuk para pembaca. Masih sekitar tujuh minggu ke depan di sini, nantikan cerita neng-neng geulis Thailand selanjutnya, HAHAHAHA.

Pat geulis pisun (dan aing di sampingnya)

Pat geulis pisun (dan aing di sampingnya)

Ngajikhun, aing nyempil

Ngajikhun, aing nyempil

Gaya sikit

Gaya sikit

Yak, kesulitan terbesar itu memang ada di awal jalan. Kesulitan akan surut seraya berusaha dan kalaupun mengeluh itu pun tak apa, asal pada tempat yang tepat.

Mendadak Jogja

May 3, 2013 § Leave a comment

Ga perlu mikir panjang untuk memulai jalan-jalan kali ini, Selasa, 15 Januari aing ngajakin begundal UT yang lain, si Edu & Fandi, ke Jogja ESOK hari. Rabu siang kita beli tiket KA Lodaya kelas Bisnis untuk Rabu malam pk 20.00. Harganya lumayan mahal bagi aing, Rp 145.000 untuk tiket berangkat dan Rp 185.000 untuk kepulangan. Yak ini adalah ‘ga mikir’ nya kami yang pertama, siang hari tiba-tiba beli tiket dan malamnya cus. Pukul 18.50 janjian di CK Sumur Bandung, sekitar 19.20 tiba di Stasiun Hall Bandung, dan sekitar 04.00 esok hari kami tiba di Stasiun Tugu Jogja. Masih ga nyangka Subuh itu aing udah di Jogja, bersama dua begundal.

Menunggu adzan subuh sambil bengong bertiga, si Edu mulai bergumam, “gue masih ga nyangka kita sekarang ada di Jogja”. Itu gumaman pertama si Edu dan akan terus diucapkan nyaris tiap jam selama di sana. Ganti baju, nyubuh, keluar stasiun, mengarah ke Malioboro, mencari pool Trans Jogja. Sempat salah arah, kami mengarah ke Pasar Kembang, namun sayang kami tidak menemukan ‘kupu-kupu malam’ sebagaimana diceritakan orang banyak, mungkin karena udah Subuh kali yak. Sampailah kami di Pool Trans Jogja paling ujung Malioboro, bayar Rp 3000 dan akhirnya kita putuskan pagi ini langsung menuju Prambanan. Tidak butuh waktu lama, sekitar 40 menit kami mendarat di Pasar Prambanan. Jam menunjukkan pukul 06.30, dingin dan lapar. Setelah mempelajari medan (alias luntang lantung ga nemuin tempat makan), akhirnya kami menemukan semacam tempat makan di Pasar Prambanan, dan nasi goreng menjadi lahapan pertama kami di Jogja. Selesai makan kita lanjut jalan menuju pintu masuk Candi Prambanan, sekitar 1km dari Pasar Prambanan. Tiba di Prambanan, beli tiket seharga Rp 30.000, masuk dan langsung duduk terdiam, masih ga nyangka pagi ini kita ada di Jogja, sekian ratus kilometer dari Bandung.

Mulai dari komplek Prambanan sampai Sewu, kita ngelakuin banyak hal, foto-foto, ngegalau candi, dan masih ngobrolin semua hal yang ada di Bandung, yang seharusnya ga kita analisis di saat liburan begini, tapi seru sih. Cukup berpanas-panasan keliling candi akhirnya kita ngadem ke museum, dan adem bener, sumpah! Jam sudah menunjukan pukul 11.00, kaki mengarah pintu keluar. Terlihat Masjid Raya Al-Muttaqun di seberang jalan keluar Prambanan, tergiur untuk mandi, akhirnya kami singgah untuk mandi dan Solat Zuhur terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ke UGM. Sudah segar, kami menuju UGM via Trans Jogja.

Penamapakan di Prambanan

Penamapakan di Prambanan

Sampai di UGM dan tujuan utama kami adalah SGPC Bu Mulyo 1959, dekat UGM dan sangat terkenal kata si Edu, sampe saat itu aing iya iya aja. Sampai akhirnya 1.5 jam kita masih belum menemukan SPGC tersebut. Lapar, kesel, capek, aing udah mau nyerah, tapi si Edu tetep semangat, sampai akhirnya kita bener-bener sampe di SGPC itu. SGPC Bu Mulyo ini adalah SGPC yang cukup terkenal di Jogja. SGPC adalah singkatan dari Sego Pecel, yang artinya nasi pecel. Harga SGPC ini cukup mahal, Rp 20000 per porsi, namun sesuai dengan rasa di lidah. Lanjut cerita, menuju tempat pesan makan, dari kejauhan datang seorang wanita, tidak begitu jelas sampai akhirnya Edu memperkenalkannya ke gue dan Fandi. Namanya Vina. Ya, dia cewek yang membuat Edu sangat bersemangat untuk sampai di tempat ini. Apa yang aing rasakan setelah berkenalan? Lapar, capek, letih, kesel di awal tiba-tiba sirna. Ibarat menemukan oase di tengah gurun pasir. Ayu, tutur katanya anggun, persis seperti ratu jawa layaknya orang-orang sering perumpakan. Setelah mengambil makan masing-masing kami pun mulai saling bercerita. Vina adalah teman masa kecil Edu, mahasiswi teknik geologi UGM. Suatu penyesalan bagiku ketika dia bercerita ia tidakdiperbolehkan kuliah di ITB karena ketakukan orang tuanya dengan pergaulan di Bandung, sayang sekali. Sayang, kita ga sempat berfoto dulu. Sumpah, ini adalah best part of Jogja hari ini, ketemu Vina :3 Lanjut.. Sampai akhirnya obrolan dua jam lebih berakhir, kami saling berpamitan dan mulailah edisi galau Jogja. « Read the rest of this entry »

%d bloggers like this: